tribunnews.com - Mengingat ketergantungan pasokan Batubara di Pulau Jawa untuk operasional PLTU sangat besar, manajemen pertambangan batubara diminta segera tanggap mengatasi persoalan tersebut. Hal ini menyusul tabrakan KA Babaranjang di Muara Enim, Sumatera Selatan yang menewaskan 4 orang.
"Pihak Bukit Asam juga harus secepatnya menyelesaikan. Manajemen yang urus batubara harus cepat tanggap terhadap kondisi darurat tersebut," ujar Anggota Komisi VII DPR, Dewi Aryani kepada Tribunnews.com, Minggu(19/2/2012).
Pihak PLN atau Indonesia Power kata Dewi yang menggunakan batubara dari Bukit Asam tentunya harus menghitung jumlah stok batubara. Mereka harus bisa antisipasi kondisi force majeur seperti ini.
"Kecelakaan itu kan musibah, tapi musibah seperti ini harus menjadi kondisi yang masuk dalam hitungan preventive managemen PLN dan jajarannya supaya tidak adanya pasokan untuk sementara waktu masih bisÀ diatasi dengan stok yang ada," jelasnya.
Meski begitu, Politisi PDI Perjuangan ini meminta masyarakat tentu tidak perlu panik jika PLN memiliki stock management yang baik berkaitan dengan batubara.
"Saya kira PLN punya cadangan hanya perlu dihitung apakah mencukupi untuk kurun waktu selama proses penyelesaian akibat dari kecelakaan tersebut masih dapat diatasi," pungkasnya.
Seperti diketahui sebelumnya, tabrakan dua kereta pengangkut batubara terjadi antara KA Batubara Rangkaian Panjang (Babaranjang) 36 dan KA Sukacinta II di Kilometer 336,90 Prabumulih-Muara Enim, antara Stasiun Penimbur dan Stasiun Niru, Minggu pagi sekitar pukul 05.50. Saat tabrakan, KA Babaranjang 36 yang membawa 44 rangkaian gerbong kosong menghantam KA Sukacinta II yang membawa 16 rangkaian gerbong bermuatan batubara yang juga tengah melaju dari arah berlawanan. Hingga saat ini belum diketahui penyebab tabrakan.
Tabrakan menewaskan empat orang, yaitu Jaswir dan Ranggi, keduanya masinis dan asisten masinis KA Babaranjang 36, serta Sunaidi dan Sajidin, masinis dan asisten masinis KA Sukacinta II. Akibat peristiwa tersebut pasokan batubara ke pulau Jawa terhenti.